Menghadap Allah, Menegakkan Altar Keluarga
Dalam Matius 22:15-22, orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus dengan pertanyaan tentang kewajiban membayar pajak kepada Kaisar. Namun, Yesus menjawab dengan tegas, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Jawaban Yesus mengajarkan bahwa kita memiliki tanggung jawab sebagai warga negara sekaligus sebagai umat Allah. Kita wajib menjalankan tanggung jawab kepada negara dengan jujur, tetapi kita juga tidak boleh melupakan tanggung jawab kepada Tuhan. Jika uang bergambar Kaisar dikembalikan kepada Kaisar, bagaimana dengan hidup kita?
Mengingatkan kembali bahwa ibadah keluarga bukan sekadar menyediakan tempat untuk berdoa, melainkan menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan keluarga. Altar keluarga ditegakkan melalui doa bersama, membaca firman Tuhan, saling mengasihi, mengampuni, dan menjadi teladan iman bagi anak-anak. Jangan sampai kita begitu sibuk memenuhi kebutuhan materi keluarga, tetapi melupakan kebutuhan rohaninya. Anak-anak bukan hanya membutuhkan pendidikan dan fasilitas yang baik, melainkan juga teladan iman dan kasih yang nyata. Pasangan bukan hanya membutuhkan pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi juga perhatian, kesetiaan, dan pertumbuhan rohani bersama. Melalui firman Tuhan ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: jika kita berusaha memenuhi kewajiban kepada negara, sudahkah kita memberikan yang terbaik kepada Allah? Sudahkah kita menyediakan waktu untuk berdoa bersama dan membangun kehidupan keluarga yang berpusat pada Tuhan?
Menghadap Allah berarti menyerahkan hidup kita kepada-Nya, sedangkan menegakkan altar keluarga berarti menghadirkan Tuhan dalam keseharian keluarga kita. Mari kita mulai dari hal-hal sederhana, sebab keluarga yang kuat dalam iman dibangun melalui kesetiaan yang dilakukan setiap hari.


