Pertobatan dan Ketaatan
Banyak orang Kristen meyakini bahwa pengakuan percaya kepada Yesus sudah cukup menjadi jaminan kehidupan kekal. Keyakinan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah melalui iman merupakan bagian penting dari iman Kristen. Namun, persoalannya muncul ketika “percaya” hanya dipahami sebagai pengakuan verbal yang membuat seseorang merasa aman, sementara kehidupan moralnya tidak mengalami perubahan.
Matius 21:23-32 menunjukkan bahwa iman tidak dapat dipisahkan dari pertobatan dan ketaatan. Dalam perumpamaan tentang dua anak, anak pertama menolak perintah ayahnya, tetapi kemudian menyesal dan melakukannya. Anak kedua mengatakan “ya”, tetapi tidak melaksanakannya. Yesus menunjukkan bahwa yang penting bukan sekadar perkataan, melainkan kesediaan melakukan kehendak Bapa. Karena itu, identitas sebagai orang Kristen tidak boleh menjadi alasan untuk merasa aman tanpa pertanggungjawaban moral. Korupsi, manipulasi pajak, kecurangan dalam bisnis, kekerasan, dan ketidakadilan tidak menjadi benar hanya karena pelakunya mengaku percaya kepada Kristus. Iman yang hidup seharusnya menghasilkan perubahan dalam cara seseorang memperlakukan Allah dan sesamanya.
Pesan ini sejalan dengan Yehezkiel yang menolak anggapan bahwa seseorang dapat berlindung pada identitas atau masa lalunya. Setiap orang bertanggung jawab atas respons dan kehidupannya sendiri. Orang yang dahulu hidup dalam dosa tetapi kemudian bertobat mendapat penghargaan Allah, sementara orang yang merasa benar tetapi menolak bertobat tidak dapat mengandalkan kesalehan masa lalunya.
Maka, Matius 21:23-32 mengajak kita bertanya bukan hanya, “Apakah saya sudah mengaku percaya?”, tetapi juga, “Apakah iman saya menghasilkan pertobatan dan ketaatan?” Pertobatan berarti berbalik dari jalan yang salah, sedangkan ketaatan berarti menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak Allah. Iman tidak berhenti pada pengakuan, tetapi harus terlihat dalam kehidupan nyata.


