Berani Mengambil Keputusan yang Benar
Setiap hari kita diperhadapkan pada pilihan. Ada keputusan yang mudah karena semua orang menyetujuinya, tetapi ada juga keputusan yang benar justru terasa berat karena menuntut keberanian untuk berbeda. Di tengah banyaknya suara yang memengaruhi kita, kita sering lebih takut mengecewakan manusia daripada tidak melakukan kehendak Tuhan. Paulus dalam Roma 12:1-8 mengingatkan bahwa hidup orang percaya adalah persembahan bagi Allah. Karena itu, kita tidak dipanggil untuk mengikuti pola dunia, melainkan mengalami pembaruan pikiran supaya mampu memahami kehendak Allah yang baik, berkenan, dan sempurna. Dengan kata lain, keputusan yang benar tidak selalu ditentukan oleh apa yang paling mudah, paling populer, atau paling menguntungkan, tetapi oleh apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Mungkin ada saat ketika kita harus berkata “tidak” pada sesuatu yang sebenarnya kita inginkan. Mungkin kita harus memilih kejujuran ketika berbohong terasa lebih aman. Mungkin kita harus meninggalkan jalan yang salah meskipun banyak orang berjalan di sana. Keputusan seperti itu tidak selalu membuat kita nyaman, tetapi keberanian iman bukanlah tidak merasa takut. Keberanian iman adalah tetap memilih yang benar meskipun ada risiko dan konsekuensinya.
Roma 12 juga mengajarkan bahwa setiap orang memiliki karunia yang berbeda dan dipanggil untuk menggunakannya dengan rendah hati. Karena itu, jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan ambisi pribadi atau membandingkan diri dengan orang lain. Tuhan memberi kita kemampuan dan tanggung jawab masing-masing. Bagian kita adalah setia menggunakan apa yang Tuhan percayakan.
Hari ini, ketika berada di persimpangan pilihan, jangan hanya bertanya, “Mana yang paling menguntungkan bagi saya?” Belajarlah bertanya, “Mana yang menyenangkan hati Tuhan?” Sebab keputusan yang benar mungkin tidak selalu menghasilkan jalan yang paling mudah, tetapi akan membawa kita semakin dekat kepada kehendak-Nya.


