BELAS KASIH ALLAH
Salah satu prioritas utama dalam anggaran rumah tangga kami Adalah kebutuhan anak. Makanan, pakaian, pendidikan, dan kebutuhan mereka yang lain, menjadi pertimbangan yang terutama sebelum saya mengalokasikan dana untuk kebutuhan lainnya. Kami selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik, tentu saja sesuai dengan kemampuan kami. Sebagai anak, kita pun berada pada urutan teratas dan menjadi prioritas di hati
Bapa kita. Tak perlu diragukan lagi, Bapa kita pun juga akan selalu menjaga kita, memenuhi kebutuhan kita, dan memberikan yang terbaik kepada kita. Saya menemukan ini menjadi salah satu alasan mengapa Allah menginginkan kita untuk memiliki anak. Ia ingin agar kita dapat mengenal hati-Nya. Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Bapa bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Tuhan Yesus membahasakan Allah sebagai Bapa yang di surga. Allah ingin agar kita mengerti bagaimana hubungan (relationship) yang sebenarnya antara Dia dengan umat-Nya, yakni seperti layaknya hubungan antara seorang bapakdengan anak-anaknya. Kebenaran ini saya dapatkan dalam perjalanan iman saya bersama dengan Tuhan. Akan tetapi, kebenaran ini tidak pernah menjadi penggambaran yang begitu nyata dan sangat indah, sampai saya sendiri memiliki anak. Pada saat saya memeluk, mencintai, dan mengasuh anak saya, Roh Kudus memberi pengertian dalam hati saya mengenai hal yang sama, yang Bapa lakukan bagi kita. Ini menjadi sarana bagi saya untuk semakin mengenal dan merasakan kasih Allah dengan begitu nyata. Hosea 6: 3 (FAYH) menyatakan, “Alangkah indahnya, kalau kita dapat sungguhsungguh mengenal TUHAN! Marilah kita dengan tekun berusaha mengenal Dia, maka Ia pasti akan menyambut kita, sama seperti fajar pasti terbit pada pagi hari, atau hujan pasti turun pada awal musim semi.”
Ketika kita mengenal Tuhan dan merasakan kasih yang begitu nyata dari Allah kepada kita, kita juga akan dimampukan untuk mengasihi sesama kita. Kualitas kasih yang kita berikan bagi orang lain sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita merasakan kasih (dikasihi) sebelumnya, termasuk tentang bagaimana kita bisa mengampuni orang lain yang bersalah pada kita jika kita belum merasakan pengampunan dari Allah, bagaimana kita bisa mengasihi orang-orang di sekitar kita jika kita belum merasakan kasih yang sempurna dari Allah, dan bagaimana kita bisa melayani orang-orang yang membutuhkan jika kita tidak terlebih dahulu merasakan penyertaan Tuhan di dalam kehidupan kita. Layaknya sebuah bejana yang terus menerus diisi air, pada waktu bejana sudah terisi penuh, air tersebut akan luber keluar dari bejana. Jika bejana tersebut bocor, ia tidak akan pernah penuh dan airnya akan keluar bahkan sebelum bejana tersebut penuh. Biarlah kita juga mau terus-menerus diisi oleh kasih Kristus, mendalami Firman Tuhan setiap harinya, membangun relasi yang intim dengan Tuhan lewat disiplin rohani sehingga pada akhirnya kita merasa penuh, dan mampu mengalirkan kasih Kristus tersebut keluar, bagi orang lain. Yohanes 13: 34 menyatakan, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Selamat mengenal, merasakan, menikmati kasih Allah, dan kemudian membagikannya kepada sesama kita.



