Kebangkitan Membawa Sukacita
Murid-murid Yesus berada dalam suasana kedukaan dan ketakutan yang mendalam. Tekanan yang besar itu membuat mereka lupa bahwa Yesus pernah mengatakan akan bangkit pada hari ketiga. Dengan diliputi perasaan cemas mereka berkumpul di sebuah rumah, dan mentaati peraturan bagi orang-orang Yahudi pada masa itu untuk tidak pergi pada hari Sabat. Didorong oleh rasa kasihnya kepada Yesus, maka segera setelah hari Sabat berlalu, menjelang fajar, Maria Magdalena dan Maria yang lain cepat-cepat menuju ke kubur Yesus.
Melalui malaikat-Nya, Allah berinisiatif dengan menggulingkan batu penutup makam supaya para perempuan itu bisa masuk dan melihat sendiri bahwa Yesus sudah bangkit. Tidak ada lagi mayat Yesus di situ. Mereka bisa menjadi saksi. Meskipun sudah menyaksikan sendiri, tetapi para perempuan itu masih juga diliputi rasa takut maka malaikat itu menguatkan dan meneguhkan dengan mengatakan “jangan takut “. Mereka diminta untuk memberitahukan kepada murid-murid yang lain, supaya para murid itu memperoleh penghiburan dan sukacita.
Walaupun para perempuan itu masih diliputi rasa takut (bingung, cemas), tetapi sudah ada sukacita di hati mereka. Terlebih lagi ketika Yesus berkenan menjumpai mereka sehingga mereka bisa mendekati, memeluk kaki-Nya dan menyembah-Nya. Mereka semakin yakin bahwa Tuhan Yesus bangkit dan hidup maka dengan antusias (berlari cepat-cepat), mereka membagikan kabar sukacita itu kepada para murid yang lain.
Tentu saja kita ikut bersyukur dan bersukacita dengan kebangkitan Tuhan Yesus. Apakah kita juga selalu (konsisten) menceritakan tentang Tuhan Yesus dengan penuh semangat dan antusias seperti para perempuan yang ke kubur Yesus? Ataukah kadang-kadang karena adanya masalah atau pergumulan dalam hidup kita, maka semangat untuk melayani jadi ikut “meredup”?


