Penderitaan Yang Membawa Kemenangan
Sebagai orang yang telah diselamatkan dari dosa dan telah dimahkotai kemenangan hidup di dalam Kristus Yesus, setiap orang percaya dipanggil untuk senantiasa meneladani sikap hidup yang telah dipraktekkan oleh Yesus, melalui kesediaan kita untuk taat sebagai seorang hamba dalam menyatakan kebenaran Allah sekalipun harus menghadapi penderitaan.
Kita pada umumnya tidak mudah menerima penderitaan sebagai jalan yang dikehendaki Allah. Oleh karenanya, kita lebih cenderung mengelak, protes dan memberontak kepada Tuhan ketika penderitaan menghampiri hidup kita. Sikap Yesus dan hamba Allah yang kita baca dan renungkan ini memang sulit ditemukan padanannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketaatan Yesus bukanlah ketaatan yang mudah dilakukan-Nya, tetapi melalui perjuangan yang sangat berat dan menantang. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkan diri-Nya kepada Allah, Bapa yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran.
Iman menghasilkan pengharapan hidup. Jika kita, dalam segala hidup bahkan dalam penderitaan sekalipun, senantiasa yakin akan kasih dan kuasa Allah, maka kita percaya bahwa Dia yang akan menguatkan, menghiburkan dan membebaskan kita. Di sinilah dibutuhkan iman agar kita tabah dan kuat untuk menunggu Dia sampai kapan pun, karena kita yakin bahwa Dia pasti menyatakan kehadiran-Nya menolong kita. Karena Dia Maha mendengar dan begitu peduli kepada kita. Jalan salib/penderitaan yang telah ditempuhnya merupakan sebuah jalan yang pasti bagi sebuah kemenangan yang sejati.
Iman harus diwujudkan di dalam kasih yang selaras dengan pikiran dan perasaan Kristus. Penderitaan dan pengorbanan Yesus di kayu salib adalah contoh yang sempurna. Berkorban berarti tidak mementingkan diri sendiri tapi mampu mendengar rintihan orang lain, dan peka melihat penderitaan orang lain. Sebab orang yang tidak mau berkorban dalam melihat penderitaan orang lain, pasti akan mendapati dirinya sendirian. Yang dia jumpai dan pikirkan hanya dirinya sendiri, oleh karena itu biasanya orang yang hanya memikirkan diri sendiri selalu merasa kesepian. Tetapi bagi orang yang mau berkorban dan menderita demi orang lain akan mendapati dirinya dengan kehidupan yang berkualitas dengan hubungan yang baik dengan orang lain maupun lingkungannya.
Disinilah ketaatan kita sebagai seorang hamba diuji. Oleh karena itu, dalam kita merenungkan kasih dan penderitaan serta pengorbanan Yesus dalam minggu ini kita juga dipanggil untuk senantiasa hidup di dalam kasih; tidak hanya untuk pribadi kita, keluarga kita, jemaat kita tetapi pada seluruh ciptaaan-Nya. Roh Kudus menyertai Kita. Amin!


