Minggu, 16 Maret 2025

Teladan Kesetiaan

 Teladan Kesetiaan


Belajar dari Abram pernah mengalami bimbang dalam perjalanan kehidupannya. Ia telah diutus oleh Tuhan Allah untuk meninggalkan tempat tinggalnya menuju suatu tempat yang akan ditunjukkan Tuhan baginya (Kej. 12:1). Bersama pula dengan janji tersebut, Tuhan akan membuat Abram menjadi bangsa yang besar. Namun setelah beberapa waktu, keturunan tidak hadir pula bagi Abram dan Sara. Dalam kebimbangan yang menggelayut di hati Abram, Tuhan Allah meneguhkan hatinya dengan berkata “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu, upahmu akan sangat besar.” Tuhan Allah menjanjikan bahwa yang akan menjadi ahli waris Abram bukanlah Eliezer, melainkan anak kandungnya sendiri (Ay. 4). 

Demikian juga dengan Yesus yang dihadapkan pada godaan untuk menghentikan tugas perutusan-Nya. Beberapa orang Farisi datang kepada Yesus dan meminta supaya Ia segera pergi dari Yerusalem. Namun apa yang dilakukan oleh orang-orang Farisi sesungguhnya adalah dalam rangka menghentikan pengajaran yang dilakukan oleh Yesus. Mereka menakut-nakuti Yesus dengan mengatakan bahwa Herodes akan membunuh-Nya apabila ia tetap berada di Yerusalem. Namun tipu muslihat dari orang-orang Farisi tidak membuat Yesus takut dan gentar. Yesus tetap pada pendirian-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah meskipun dengan beragam konsekuensi dan resiko yang harus Ia tanggung. Ia tidak takut dengan kematian. 

Kuasa dunia memang ingin menghancurkan misi Allah untuk menyelamatkan dunia, dengan cara membunuh Yesus. Yerusalem menjadi simbolisasi kehadiran Allah, dan juga manifestasi dari para lawan Allah yang menolak maksud hati–Nya untuk merangkul dan melawat mereka.  Rahasia kasih Allah yang tak bersyarat dan tak terbatas. Karena seringkali di tengah realitas dunia, area kehidupan hanya dibagi antara hitam dan putih. Sayangnya yang disebut “putih” adalah kelompok mereka sendiri, sedangkan kelompok liyan dimasukkan dalam area ”hitam”. Bahkan parahnya menistakan kelompok yang tidak sepaham. Kondisi yang demikian memicu perpecahan. (Filipi 3:18-19).

Perjuangan iman serta panggilan kita untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah di bumi juga kerapkali dihadapkan pada godaan untuk menjadi bimbang dan ragu. Dalam bacaan ke 2, Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Filipi untuk tetap memiliki keteguhan hati di dalam Tuhan (Fil. 4:1). Di tengah berbagai rintangan serta godaan apapun, jemaat di Filipi dipanggil untuk senantiasa berpegang teguh pada Tuhan, dengan demikian iman serta pengharapan mereka tetap tertuju pada-Nya.

Di minggu pra-paskah kedua ini kita belajar tentang keteguhan dan kesetiaan akan panggilan hingga akhir berdasar atas kasih Kristus yang merengkuh dan merangkul setiap ciptaan tanpa syarat. Belajar dari Yesus yang senantiasa memegang teguh apa yang menjadi panggilannya untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah meskipun dihadapkan pada beragam rintangan serta penderitaan. Belajar dari kepedulian Yesus terhadap Yerusalem, meski Yerusalem menolak–Nya. Kesedihan dan keprihatinan tidak menghalangi Yesus untuk tetap setia dan konsisten untuk melakukan kehendak Tuhan. Bagaimana dengan kita? Seringkali kita terhanyut, luka dan kepedihan mematahkan kesetiaan dan konsistensi kita dalam tugas dan panggilan melayani Tuhan. Marilah kita juga memiliki keteguhan hati dalam melakukan panggilan Tuhan untuk mewartakan kasih Allah, meskipun kasih yang kita nyatakan kadangkala tidak diterima dengan baik oleh orang lain, meskipun rintangan bahkan penderitaan harus kita alami. Sejauhmana kasih dan kesetiaan kita sungguh-sungguh tunduk di bawah otoritas kasih-Nya? Dalam keteguhan hati kepada Tuhan, pengharapan kita tidak akan sia-sia. Amin.


 
KLIK TOMBOL HIJAU INI UNTUK BERTANYA KONSULTASI DENGAN PENDETA GKJ BANGSA VIA WHATSAPP - 085228765288
wa